Karena kecintaannya terhadap ilmu pengetahuan, khususnya di bidang
agama, As-Suyuti mendapat julukan Ibnul Kutub (anaknya para buku).
Orang-orang yang pernah dekat dengan As-Suyuti semasa hidupnya mengenal
sosok ulama Mesir yang satu ini sebagai pribadi yang sederhana, baik
hati, saleh, takut kepada Allah, puas dengan rezeki yang telah ia terima
dari profesinya sebagai guru.
Mengenai sifatnya yang terakhir
ini, banyak di antara para penguasa dan orang-orang kaya yang hidup di
zamannya yang kerap menawarkan jabatan tinggi dan kehidupan mewah
kepadanya. Namun, semua itu ia tolak dengan halus.
Selain
menuntut ilmu, As-Suyuti juga menghabiskan sebagian besar hidupnya
dengan melakukan perjalanan ke sejumlah tempat, di antaranya ke Syam,
Hijaz, Yaman, India dan Maroko. Namun saat menginjak usia lanjut, ia
lebih memilih untuk tinggal dan menetap di tanah kelahirannya, Mesir.
Dan
sejak saat itu memilih untuk menarik diri dari khalayak ramai serta
lebih banyak berdiam diri di dalam rumahnya dan menyibukkan diri dengan
aktivitas menulis dan penelitian. Hal ini dilakukannya hingga ia jatuh
sakit selama tujuh hari, yang berakhir dengan kematiannya pada bulan
Jumadil Ula tahun 911 H, atau bertepatan dengan tahun 1505 M.
Kehidupan
sehari-hari As-Suyuti tidak pernah jauh dari ilmu-ilmu yang pernah
dipelajarinya. Karenanya masa hidupnya ia habiskan di bidang pendidikan.
Ia sudah menjadi seorang guru di usianya yang terbilang masih belia,
yakni 17 tahun. Ia juga tercatat pernah menduduki berbagai jabatan
penting yang berkaitan erat dengan bidang pendidikan. Di antaranya ia
pernah menjadi guru bahasa Arab pada tahun 866 H/1462 M, berwenang untuk
memberikan fatwa di tahun 876 H/1472 M dan mengajar hadits di
Universitas Ibn Tulun.